Bagaimana Kerajaan Bootlegging Jay Gatsby Memicu Era Jazz

7

Topengnya tergelincir, nyaris saja. Dalam film klasik F. Scott Fitzgerald tahun 1925 The Great Gatsby, Jay Gatsby menampilkan dirinya sebagai pemimpi Amerika klasik—nuansa uang kuno, jas putih, pesona yang tak ada habisnya. Namun uang yang masuk ke kantongnya bukan berasal dari warisan atau keuntungan pasar saham. Itu berasal dari dasar botol. Khususnya minuman keras ilegal.

Ketika Larangan diberlakukan, Gatsby tidak tetap sadar. Dia berputar. Dengan mitra bisnisnya Meyer Wolfsheim, Gatsby menjalankan operasi yang menguntungkan di Chicago. Mereka tidak hanya menuangkan minuman di speakeasi; mereka menjual alkohol selundupan langsung dari toko obat. Sebuah celah cerdas jika memang ada.

Kerahasiaan adalah bagian dari daya tariknya. Gatsby menjaga sumber kekayaannya seperti rahasia negara. Dia tidak berbicara tentang Wolfsheim. Dia tidak menyebutkan penggerebekan atau suap. Sebaliknya, dia mengadakan pesta mewah di rumahnya di West Egg, berharap tontonan itu akan mengalihkan perhatian dari asal muasal kekayaannya yang kotor.

“Dia adalah pria langka yang siap meminta maaf kepada Anda.”
— Nick Carraway

Mengapa diam saja? Karena Impian Amerika, di Roaring Twenties, menuntut penyempurnaan tertentu. Gatsby menginginkan hasil tanpa noda. Dia menginginkan pesta, kekaguman, dan cinta Daisy—semuanya tanpa label penyelundup yang melekat pada namanya.

Ironinya cukup tebal untuk dipotong dengan pisau. Dia membangun istana cahaya di atas fondasi lumpur. Dan ketika pesta berakhir, para tamu pun pergi. Anggurnya habis. Kebenarannya tetap ada, tersembunyi dalam bayang-bayang Long Island Sound.