Misi Artemis II sedang memasuki fase paling kritis. Senin dini hari (Waktu Bagian Timur), pesawat ruang angkasa awaknya akan melewati ambang batas penting: memasuki lingkup pengaruh bulan. Inilah saat yang tepat ketika tarikan gravitasi Bulan mulai mengalahkan tarikan gravitasi Bumi, menandai transisi dari berangkat dari rumah ke tiba di tujuan baru.
Memecahkan Rekor dan Menetapkan Tonggak Sejarah Baru
Saat pesawat ruang angkasa tersebut melaju menuju targetnya, misi tersebut siap untuk memecahkan rekor jarak tempuh manusia yang sudah lama ada. Sekitar pukul 13.56, kru beranggotakan empat orang—Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch (NASA), dan Jeremy Hansen (Badan Antariksa Kanada) —akan melakukan perjalanan lebih jauh dari Bumi dibandingkan manusia mana pun dalam sejarah.
Perjalanan ini akan melampaui rekor sebelumnya yaitu 248.655 mil, yang dicapai selama misi Apollo 13. Meskipun Apollo 13 mencapai jarak yang sama dalam keadaan darurat untuk memfasilitasi kembalinya ke Bumi, kru Artemis II menempuh jarak tersebut sebagai bagian dari eksplorasi lingkungan bulan yang disengaja dan terencana.
Tujuan Misi: Tampilan Close-Up
Fokus utama dari misi 10 hari ini adalah terbang lintas bulan berkecepatan tinggi, sehingga manusia dapat melihat Bulan dari jarak dekat untuk pertama kalinya dalam lebih dari lima dekade. Setelah pesawat ruang angkasa mencapai jarak terdekatnya, kru akan memulai periode observasi metodis.
Rencana misi meliputi:
– Pengamatan yang Ditargetkan: Para kru akan fokus pada sekitar 35 fitur permukaan bulan tertentu.
– Dokumentasi Ilmiah: Dengan menggunakan pencitraan canggih, para astronot akan menangkap data lanskap bulan dengan resolusi tinggi.
– Verifikasi Sistem: Para kru telah memulai persiapan awal, termasuk menguji peralatan telefoto untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi penting di permukaan.
Mengapa Ini Penting
Misi ini lebih dari sekedar penerbangan yang memecahkan rekor; ini adalah ujian penting bagi sistem dan ketahanan manusia yang diperlukan untuk tempat tinggal di bulan dalam jangka panjang. Dengan berhasil menavigasi gravitasi Bulan dan melakukan observasi permukaan secara mendetail, NASA dan mitra internasionalnya meletakkan dasar untuk misi masa depan yang bertujuan untuk mendaratkan manusia di permukaan bulan.
Transisi dari “mengorbit Bumi” ke “mengorbit Bulan” mewakili perubahan mendasar dalam kompleksitas penerbangan luar angkasa, menguji kemampuan pesawat ruang angkasa untuk mengelola dinamika gravitasi yang intens di lingkungan luar angkasa.
Lintasan terbang Artemis II berfungsi sebagai jembatan pasti antara era kunjungan ke bulan dan era pendudukan bulan.
Singkatnya, kru Artemis II sedang bertransisi dari penerbangan menuju Bumi ke kedatangan di bulan, sebuah langkah yang akan memecahkan rekor jarak historis dan memberikan data ilmiah permukaan Bulan yang belum pernah ada sebelumnya.
























