Selama ribuan tahun, kemajuan ilmu pengetahuan terkait erat dengan konflik bersenjata dan kerusuhan sosial. Dari ketapel Syracuse kuno – dilaporkan ditemukan sekitar 400 SM. oleh tiran Dionysius the Elder – hingga gas air mata modern, inovasi yang lahir di laboratorium telah membentuk medan perang dan jalanan. Arahnya jelas: alat yang dikembangkan untuk satu tujuan sering kali digunakan kembali untuk tujuan lain, dan terkadang menimbulkan konsekuensi yang menghancurkan.
Dari Kembang Api ke Senjata Api: Evolusi Persenjataan
Sejarah peperangan merupakan kronik ilmu terapan. Bubuk mesiu, pertama kali dibuat oleh alkemis Tiongkok sekitar tahun 850 M untuk perayaan kembang api, dengan cepat berkembang menjadi meriam dan senjata api genggam. Pola ini berulang selama berabad-abad; balon udara, yang ditemukan pada abad ke-18, dengan cepat digunakan untuk pengintaian militer, dan pesawat terbang menjadi pusat Perang Dunia II, yang berpuncak pada pemboman atom di Jepang pada tahun 1945. Contoh-contoh ini menggambarkan kebenaran mendasar: kemajuan teknologi tidak secara inheren menentukan penerapan yang damai.
Gas Air Mata: Dari Medan Perang hingga Pengendalian Massa
Bahkan teknologi yang tampaknya “tidak terlalu mematikan” seperti gas air mata mempunyai akar yang kuat dalam konflik. Awalnya dibuat sebagai senjata kimia selama Perang Dunia I, senjata ini kemudian digunakan untuk melawan para veteran Amerika yang memprotes penundaan pembayaran bonus pada tahun 1930-an, dan terus digunakan hingga saat ini untuk pengendalian massa sipil. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa paparan gas air mata dapat menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang, sehingga menimbulkan pertanyaan kritis mengenai penggunaannya mengingat penyebaran gas air mata yang meluas terhadap pengunjuk rasa. Fakta bahwa gas air mata sering dianggap sebagai alternatif yang “aman” mengabaikan semakin banyaknya bukti potensi bahaya yang ditimbulkannya.
Sains, Protes, dan Pertanyaan Moral
Hubungan antara sains dan protes tidak hanya mencakup persenjataan. Peristiwa yang terjadi baru-baru ini menyoroti betapa pencapaian ilmu pengetahuan yang tampaknya menyatukan dapat dibayangi oleh realitas sosial dan politik. Penerbangan lintas bulan Artemis II yang akan datang, misalnya, membangkitkan kenangan akan misi Apollo 11, namun juga memicu perdebatan tentang manfaat upaya tersebut ketika masalah dalam negeri seperti penegakan imigrasi dan hak-hak sipil masih belum terselesaikan. Pada tahun 1969, editor Science News mempertanyakan fokus pada eksplorasi ruang angkasa sementara dunia bergulat dengan perang dan ketidakadilan. Pertanyaannya bukan apakah pencapaian ilmiah itu mengesankan, tapi apakah pencapaian tersebut bermanfaat bagi kemanusiaan ketika kebutuhan dan hak-hak dasar diabaikan.
“Mustahil untuk meremehkan pencapaian para astronot,” tulis Warren Kornberg pada tahun 1969. “Tetapi kesimpulan sejarah mungkin adalah, ketika bumi meletus, kita mengabaikan tantangan sebenarnya dan mengejar jejak roket ke bulan.”
Pada akhirnya, titik temu antara ilmu pengetahuan, konflik, dan protes memerlukan refleksi kritis. Kemajuan di bidang apa pun harus dipertimbangkan bersamaan dengan tanggung jawab etis untuk memastikan bahwa inovasi bermanfaat, bukan memperburuk kesenjangan yang ada.























