Dalam diskusi luas baru-baru ini, fisikawan Brian Cox mengeksplorasi keseimbangan antara kepastian ilmiah dan misteri mendalam yang mendorong keingintahuan manusia. Dari simetri kepingan salju hingga munculnya Kecerdasan Buatan yang tidak dapat diprediksi, refleksi Cox menunjukkan bahwa bagian terpenting dari sains bukan hanya apa yang kita temukan, namun kesediaan kita untuk mengakui apa yang belum kita pahami.
Kekuatan “Saya Tidak Tahu”
Cox mendapatkan inspirasi untuk pertunjukan live terbarunya, Emergence, dari karya Johannes Kepler tahun 1609, The Six-Cornered Snowflake. Kepler, seorang raksasa gerak planet, terkenal bingung mengapa kepingan salju memiliki simetri enam sisi—sebuah pertanyaan yang tidak dapat dia jawab dengan peralatan pada masanya.
Bagi Cox, pengakuan ketidaktahuan ini bersifat “radikal” dan penting. Dia berpendapat bahwa sains didefinisikan oleh tiga kategori berbeda:
– Yang Luar Biasa: Hal-hal yang saat ini kami pahami.
– Yang Tidak Diketahui: Misteri yang sedang kami selidiki secara aktif.
– Yang Tidak Dapat Diketahui: Konsep yang mungkin selamanya berada di luar jangkauan manusia.
Perspektif ini menggeser fokus ilmu pengetahuan dari sekedar kumpulan fakta menjadi pencarian makna filosofis yang berkelanjutan.
Batasan Penemuan: AI dan Komputasi Kuantum
Saat mendiskusikan kemajuan ilmu pengetahuan pada dekade berikutnya, Cox menunjuk pada dua bidang yang revolusioner namun tidak dapat diprediksi: Kecerdasan Buatan dan Komputasi Kuantum.
- Kecerdasan Buatan: Cox menggambarkan AI sebagai pedang bermata dua—sebuah lompatan maju yang “menarik” namun sekaligus menghadirkan “potensi masalah”. Persoalan intinya adalah lintasannya; kita sedang mengembangkan kekuatan yang dengan cepat melampaui kemampuan kita untuk memprediksi dampak utamanya.
- Komputasi Kuantum: Ia mencatat kurangnya konsensus yang signifikan bahkan di antara para ahli. Meskipun ada yang memprediksi utilitas kuantum akan terjadi dalam waktu lima tahun, ada pula yang percaya bahwa hal tersebut mungkin tidak akan terwujud dalam jangka waktu seumur hidup.
Ketidakpastian ini menyoroti tren yang lebih luas dalam ilmu pengetahuan modern: kita menciptakan teknologi yang sangat transformatif sehingga bahkan para arsitek di bidang ini tidak dapat menyetujui garis waktu atau bentuk akhirnya.
Pencarian Kehidupan dan Skala Alam Semesta
Salah satu pertanyaan Cox yang paling abadi adalah pencarian kehidupan di luar bumi. Dia mencatat bahwa kita semakin dekat dengan jawabannya, berkat:
– Misi pesawat luar angkasa saat ini dalam perjalanan ke bulan Jupiter.
– Teleskop Luar Angkasa James Webb, yang kini dapat menganalisis atmosfer planet ekstrasurya jauh untuk mengetahui tanda biologisnya.
Pencarian ini dikontekstualisasikan oleh skala kosmos yang menakjubkan. Cox menyoroti perubahan besar dalam perspektif manusia: pada tahun 1920-an, para ilmuwan masih memperdebatkan apakah galaksi lain memang ada. Saat ini, kita mengetahui bahwa terdapat sekitar 2 triliun galaksi di alam semesta teramati saja. Bagi Cox, fakta yang paling “menakjubkan” bukan hanya usia alam semesta (13,8 miliar tahun), namun fakta bahwa umat manusia sebenarnya telah berhasil mengukurnya.
Refleksi Budaya dan Koneksi
Di luar laboratorium, Cox memberikan pandangan jujur mengenai pandangannya mengenai masyarakat dan seni:
- Media Sosial: Dulunya merupakan visi “utopis” mengenai konektivitas global, Cox kini memandang media sosial dengan skeptis. Ia mencatat bahwa meskipun negara tersebut menjanjikan pertukaran ide yang sehat, hal ini sebagian besar telah menjadi lingkungan yang bising karena misinformasi dan polarisasi politik.
- Evolusi Musik: Menariknya, Cox merasakan adanya stagnasi dalam inovasi musik. Dia membandingkan perubahan gaya besar-besaran yang terlihat antara tahun 1950an dan 1980an (dari Frank Sinatra ke Pink Floyd) dengan relatif tidak adanya evolusi nyata dalam musik sejak tahun 2000 dan seterusnya.
- Persimpangan Seni dan Sains: Menolak gagasan bahwa musik hanyalah sebuah “seni” dan sains hanyalah sebuah “disiplin”, Cox berpendapat bahwa keduanya merupakan respons manusia terhadap keindahan dan misteri dunia.
“Ilmu pengetahuan pada dasarnya merupakan respons terhadap keindahan dunia, begitu pula musik. Semua aktivitas manusia merupakan respons terhadap keindahan dan misteri dunia.”
Kesimpulan
Wawasan Brian Cox mengingatkan kita bahwa sains bukanlah kumpulan pengetahuan yang statis, melainkan sebuah perjalanan yang dinamis dan seringkali tidak pasti. Baik menjelajahi luasnya 2 triliun galaksi atau kompleksitas AI, pendorong kemajuan yang sebenarnya tetaplah ketertarikan kita terhadap hal-hal yang tidak dapat dijelaskan.
