Kemampuan Beradaptasi Umat Manusia: Mengapa Spesies Kita Berkembang di Dunia yang Berubah

19

Manusia secara unik diperlengkapi untuk bertahan hidup di hampir semua lingkungan di Bumi, yang merupakan bukti kemampuan evolusioner kita dalam beradaptasi. Ini bukan hanya tentang perubahan biologis; kemampuan kita untuk menciptakan peralatan, pakaian, dan tempat berlindunglah yang memungkinkan kita untuk berkembang dimana spesies lain tidak bisa. Buku baru Profesor Herman Pontzer, Adaptable: How Your Unique Body Benar-benar Bekerja dan Mengapa Biologi Kita Menyatukan Kita (Penguin Random House, 2025), mengeksplorasi interaksi antara genetika, lingkungan, dan keanekaragaman manusia.

Karya Pontzer sebagian besar diambil dari penelitian terhadap populasi pemburu-pengumpul masa kini—seperti suku Hadza di Tanzania—untuk menggambarkan betapa berbedanya gaya hidup modern dengan lingkungan yang membentuk tubuh kita. Pergeseran ini, menurutnya, mendorong peningkatan penyakit yang dapat dicegah. Adaptable telah diakui sebagai finalis PEN/E.O. Penghargaan Penulisan Sains Sastra Wilson, dengan pemenang diumumkan pada 31 Maret dan menerima hadiah $10.000.

Ilmu Adaptasi Manusia

Pontzer menjelaskan bahwa kesalahpahaman tentang cara kerja tubuh tersebar luas, sehingga memicu misinformasi. Dia menunjuk pada ginjal sebagai contoh utama: organ-organ ini menyaring 180 liter air setiap hari, mendetoksifikasi tubuh jauh lebih efektif daripada suplemen apa pun. Demikian pula limpa, yang sering diabaikan, beradaptasi terhadap tekanan lingkungan; orang Sama di Filipina, yang menyelam untuk mencari makan di bawah air, secara genetik memiliki limpa yang lebih besar untuk menyimpan lebih banyak oksigen.

Adaptasi lokal terjadi ketika sifat-sifat tertentu memberikan keuntungan bertahan hidup di lingkungan tertentu, namun hal ini jarang terjadi. Agar suatu sifat dapat tersebar luas, sifat tersebut harus secara konsisten bermanfaat hanya di lokasi tersebut, mencegah “aliran gen” menyebarkannya ke mana-mana. Warna kulit adalah contoh yang jelas: kulit yang lebih gelap melindungi terhadap radiasi ultraviolet di ketinggian, sementara kulit yang lebih terang memungkinkan produksi vitamin D yang lebih baik di area yang kurang terkena sinar matahari.

Ketidaksesuaian Evolusioner dan Kesehatan Modern

Konsep penting yang disoroti Pontzer adalah “ketidakcocokan evolusioner.” Selama jutaan tahun, manusia berevolusi sebagai pemburu-pengumpul, berkembang di lingkungan yang menuntut fisik dengan pola makan alami. Gaya hidup modern—pengendalian iklim, makanan olahan, antibiotik—menimbulkan perbedaan yang sangat kontras. Ketidaksesuaian ini mendorong terjadinya masalah kesehatan modern, mulai dari penyakit jantung hingga alergi, karena tubuh kita berjuang untuk beradaptasi dengan kondisi yang tidak dirancang untuknya.

Pontzer menekankan pentingnya memahami konteks yang lebih luas ini. Misalnya, meskipun ada perbedaan genetik antar populasi, menghubungkan kondisi seperti penyakit jantung hanya dengan genetika adalah hal yang menyesatkan. Jantung manusia berevolusi di bawah tekanan selektif yang konsisten; lingkungan modern adalah pengganggu sesungguhnya.

Kekuatan Keberagaman

Pontzer menekankan bahwa kemampuan beradaptasi manusia adalah kunci kesuksesan kita. Spesies ini berkembang bukan karena satu sifat saja, namun karena fleksibilitas yang dimilikinya. Mempelajari beragam populasi—mulai dari suku Hadza hingga Sama—mengungkapkan seluruh potensi biologis manusia. Hal ini penting untuk membantah klaim pseudoscientific tentang superioritas atau inferioritas genetik.

“Kita bisa mencapai kesuksesan karena kemampuan beradaptasi dan fleksibilitas ini. Itu sebabnya jumlah kita adalah 9 miliar, bukan 9 miliar primata lainnya.”

Pada akhirnya, Pontzer berharap bukunya membekali pembaca untuk mengevaluasi informasi ilmiah secara kritis. Dia mendorong untuk mempertanyakan kategori-kategori sederhana dan mengenali interaksi kompleks antara gen, lingkungan, dan budaya. Memahami dinamika ini sangat penting untuk mengatasi misinformasi seputar kesehatan, genetika, dan evolusi manusia.

Kesimpulannya jelas: ketahanan manusia terletak pada keberagaman dan kemampuan kita untuk beradaptasi. Pemahaman ini, bukan hanya literasi sains, yang akan membentuk masa depan yang lebih sehat.