Sebuah teknologi baru siap untuk membentuk kembali perawatan kesuburan dengan memulihkan sel telur yang sebelumnya hilang, sehingga berpotensi meningkatkan tingkat keberhasilan bagi pasangan yang menjalani reproduksi berbantuan. Metode konvensional pengambilan sel telur bergantung pada inspeksi visual di bawah mikroskop, namun penelitian baru yang diterbitkan di Nature Medicine mengungkapkan bahwa pendekatan ini sering mengabaikan sel telur yang layak dan dibuang bersama cairan folikel.
Masalah dengan Metode Saat Ini
Selama bertahun-tahun, klinik kesuburan beroperasi dengan asumsi bahwa pencarian mikroskopis manual sudah cukup menyeluruh. Namun, penelitian menunjukkan bahwa sejumlah besar telur sering tertinggal. Hal ini penting karena semakin banyak sel telur yang diambil, semakin tinggi peluang keberhasilan perkembangan dan implantasi embrio. Jumlah sel telur berdampak langsung pada peluang pasien untuk dilahirkan hidup; mengabaikan bahkan beberapa saja dapat mengurangi peluang tersebut.
Cara Kerja Perangkat Baru
Teknologi baru ini menggunakan sistem mikrofluida—pada dasarnya, sebuah “mesin pinball” mini untuk cairan folikel. Perangkat ini memandu cairan melalui jaringan saluran dan bumper, sehingga meningkatkan kemungkinan mendeteksi telur yang terlewatkan. Dalam uji coba yang melibatkan 582 pasien di empat klinik, perangkat ini menemukan 582 telur tambahan dari cairan yang sudah diperiksa secara manual. Artinya, rata-rata, lebih dari separuh pasien mengalami kehilangan sel telur tambahan melalui metode standar.
Terbukti Sukses: Kelahiran Hidup
Teknologi ini tidak hanya bersifat teoretis; itu sudah terbukti efektif. Salah satu segmen penelitian mengikuti 19 pasien dan memastikan bahwa embrio yang berasal dari sel telur yang diperoleh menggunakan perangkat tersebut menghasilkan kehamilan yang sukses, dan bayinya lahir pada bulan September. Validasi di dunia nyata ini penting karena menunjukkan potensi metode ini untuk meningkatkan hasil.
Apa Artinya bagi Masa Depan
Implikasi dari penemuan ini sangat besar. Klinik kesuburan akan segera mengadopsi teknologi ini sebagai praktik standar untuk memaksimalkan hasil sel telur. Hal ini dapat meningkatkan tingkat keberhasilan IVF, mengurangi kebutuhan akan siklus berulang, dan memberikan pilihan yang lebih baik bagi pasangan yang menghadapi infertilitas. Hal penting yang bisa diambil adalah bahwa apa yang tadinya dianggap sebagai penelusuran menyeluruh kini mungkin dianggap tidak lengkap, dan alat baru ini menjembatani kesenjangan tersebut.
Terobosan ini menyoroti pentingnya inovasi berkelanjutan dalam pengobatan reproduksi, dimana perbaikan kecil sekalipun dapat berdampak signifikan terhadap kehidupan pasien.
