Malam ini, 16 Februari 2025, Bulan hampir tidak terlihat, menandai tahap akhir dari fase memudarnya bulan sabit. Hanya 2% permukaan bulan yang diterangi, sehingga sulit untuk mengamati fitur-fitur tertentu. Hal ini terjadi karena posisi Bulan berada di antara Bumi dan Matahari, dengan sisi yang menghadap kita sebagian besar tidak mendapat penerangan.
Memahami Fase Bulan
Perubahan penampakan Bulan sepanjang bulan disebabkan karena orbitnya mengelilingi Bumi yang membutuhkan waktu kurang lebih 29,5 hari untuk menyelesaikannya. Saat Bulan mengelilingi planet kita, berbagai bagian permukaannya terlihat dari sudut pandang kita saat sinar matahari memantulkannya.
Delapan fase berbeda adalah:
- Bulan Baru: Bulan hampir seluruhnya gelap sehingga tidak terlihat.
- Bulan Sabit Lilin: Sepotong cahaya muncul di sisi kanan (di Belahan Bumi Utara).
- Kuartal Pertama: Separuh Bulan menyala di sisi kanan, menyerupai Bulan separuh.
- Waxing Gibbous: Lebih dari separuh Bulan diterangi, namun belum purnama.
- Bulan Purnama: Seluruh permukaan Bulan bersinar terang.
- Waning Gibbous: Bulan mulai kehilangan cahaya di sisi kanan.
- Kuartal Ketiga (Kuartal Terakhir): Bulan sabit lainnya, dengan sisi kiri menyala.
- Bulan Sabit yang Memudar: Sepotong cahaya tipis tetap berada di sisi kiri sebelum menghilang lagi ke dalam kegelapan.
Kapan Bulan Purnama Lagi?
Bulan Purnama berikutnya diperkirakan terjadi pada 3 Maret 2025. Bulan Purnama sebelumnya terjadi pada tanggal 1 Februari, menandai perkembangan siklus yang berkelanjutan.
Siklus ini sangat penting dalam cara kita melacak waktu, dan telah digunakan dalam berbagai budaya di seluruh dunia selama ribuan tahun. Memahami fase-fase ini membantu menjelaskan mengapa Bulan terkadang mendominasi langit malam, dan di waktu lain menyatu dalam kegelapan.

























