Hilang dan Ditemukan: Marsupial Punah Ditemukan Kembali di New Guinea

21
Hilang dan Ditemukan: Marsupial Punah Ditemukan Kembali di New Guinea

Dua spesies marsupial, yang diyakini telah punah selama lebih dari 6.000 tahun, telah dipastikan hidup di hutan terpencil di New Guinea. Burung layang ekor cincin (Tous ayamaruensis ) dan posum jari panjang kerdil (Dactylonax kambuayai ) sebelumnya hanya diketahui dari catatan fosil yang ditemukan di Australia. Kelangsungan hidup mereka merupakan sebuah penemuan ilmiah yang luar biasa, namun juga menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan konservasi di wilayah yang menghadapi hilangnya habitat dengan cepat.

Spesies Lazarus

Penemuan kembali ini bukanlah suatu kebetulan. Para peneliti, yang dipimpin oleh Tim Flannery dari Museum Australia, menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti-bukti yang terfragmentasi: penampakan yang menggiurkan, spesimen museum yang salah diidentifikasi, dan sisa-sisa sub-fosil. Yang terpenting adalah kolaborasi dengan masyarakat adat setempat di semenanjung Vogelkop, Papua, Indonesia, terbukti penting untuk verifikasi. Komunitas-komunitas ini sudah mengetahui keberadaan hewan tersebut, dan dalam beberapa kasus, menganggap pesawat layang itu suci, melindunginya dari campur tangan pihak luar.

Pesawat layang berekor cincin sangat berbeda dari pesawat layang lainnya di Australia; ia memiliki ekor yang dapat memegang dan telinga yang tidak berbulu, sehingga memerlukan klasifikasinya dalam genus terpisah. Possum kerdil berjari panjang, yang sama anehnya, memiliki jari yang sangat panjang di masing-masing tangannya, digunakan untuk mengeluarkan larva kumbang dari kayu yang membusuk. Pola makan khusus dan adaptasi pendengarannya yang unik menunjukkan peran ekologis yang sangat khusus.

Mengapa Ini Penting

Kelangsungan hidup spesies ini menyoroti keterbatasan catatan fosil dalam menentukan kepunahan. Spesies dapat bertahan di habitat terisolasi selama ribuan tahun, tanpa terdeteksi oleh ilmu pengetahuan arus utama. Namun keberlangsungan keberadaannya tidak terjamin. Lokasi persis di mana hewan-hewan ini hidup dirahasiakan untuk mencegah perburuan liar.

Penemuan ini juga merupakan pengingat akan apa yang mungkin hilang di Australia akibat pembukaan lahan bersejarah. Seperti yang dikemukakan oleh David Lindenmayer dari Australian National University, temuan ini menimbulkan pertanyaan tentang seberapa banyak keanekaragaman hayati yang tidak tercatat telah hilang sebelum dapat dipelajari.

Ancaman Masih Ada

Meskipun ditemukan kembali, kedua spesies ini menghadapi ancaman dari penebangan dan perusakan habitat. Sedikit yang diketahui mengenai kisaran pastinya dan persyaratan ekologisnya, sehingga menyulitkan perencanaan konservasi yang efektif. Para ilmuwan memperingatkan bahwa memelihara hewan-hewan ini di penangkaran hampir mustahil karena pola makan khusus mereka.

“Ini adalah penemuan yang menarik dan penting, namun tingkat penebangan kayu di New Guinea sangat memprihatinkan,” kata Lindenmayer.

Penemuan kembali “spesies Lazarus” ini merupakan sebuah kemenangan bagi kegigihan ilmiah, namun merupakan seruan serius untuk bertindak. Nasib burung layang ekor cincin dan posum jari panjang kerdil kini bergantung pada pelestarian habitat rapuh mereka.