Bruce Wayne tidak selalu menjadi Ksatria Kegelapan. Dia hanyalah seorang anak kecil yang ketakutan berdiri di trotoar, menyaksikan orang tuanya meninggal di hadapannya. Trauma itu tidak hanya menghancurkannya. Itu memalsukannya.
Dia membuat janji yang dingin dan sulit pada dirinya sendiri saat itu juga. Dia bersumpah untuk menghabiskan sisa hidupnya memerangi semua penjahat. Balas dendam saja tidak cukup. Dia perlu menjadi sesuatu yang lain sepenuhnya. Sesuatu yang menimbulkan ketakutan di hati orang-orang yang beroperasi dalam bayang-bayang.
Jadi mengapa kelelawar?
Itu bukanlah pilihan acak. Bruce membutuhkan simbol. Dia perlu mengubah ketakutan terdalamnya menjadi senjata. Dia melihat sekeliling Gotham, pada takhayul dan kemelaratan, dan melihat sebuah peluang. Jika dia bisa membuat penjahat percaya bahwa dia adalah sesuatu yang supranatural, sesuatu yang tidak dapat disentuh, dia bisa menghancurkan mereka tanpa melontarkan satu pukulan pun.
Kelelawar menjadi topeng. Itu bukan hanya kostum. Itu adalah alat psikologis. Dia ingin orang yang bersalah mendengar kepakan sayap dan mengira mereka sedang diburu oleh sesuatu yang kuno. Sesuatu yang tidak bisa dihindari.
Keputusan ini mendefinisikan inti cerita asal usul Batman. Ini bukan tentang gadget atau uang. Ini tentang teater. Ini tentang menggunakan kesedihan sebagai bahan bakar dan ketakutan sebagai pelindung. Dia tidak hanya memutuskan untuk memerangi kejahatan. Dia memutuskan untuk menjadi mimpi buruk.
“Dia memilih kelelawar sebagai dasar penyamarannya untuk melawan kejahatan dan dengan demikian menjadi Batman.”
Momen di gang itu mengubah segalanya. Bruce Wayne meninggal malam itu. Batman lahir dari abu seorang anak laki-laki patah hati yang menolak membiarkan keadilan mati bersama orang tuanya.




















