Gurita raksasa biasa menguasai lautan dalam

4

Bayangkan seekor cumi seukuran bus sekolah.

Tidak lucu. Tidak penasaran. Besar.

Sejak lama, ahli paleontologi mengetahui tentang nenek moyang Architeuthis. Mereka tahu makhluk itu ada pada akhir periode Cretaceous. Tapi detailnya? Kusut. Sampai sekarang.

Para ilmuwan baru saja menemukan petunjuk baru yang sangat besar.

Sebuah cakar tunggal.

Tidak banyak. Hanya satu pengisap yang ketagihan. Tapi itu milik sesuatu yang bahkan membuat Rahang terlihat seperti ikan mas. Benda ini sangat besar. Kita berbicara tentang gurita yang menyaingi mosasaurus terbesar pada zamannya. Lautan saat itu tidak hanya dipenuhi hiu. Ada predator yang mendefinisikan ulang kata behemoth.

Petunjuknya Kecil. Binatang Itu Tidak.

Fosil itu ditemukan di Montana. Tidak persis di tengah-tengah Pasifik, bukan? Namun jutaan tahun yang lalu, daratan itu terendam. Ekosistem kaya. Kacau. Tempat mencari makan bagi orang gila.

Saat Anda mengukur cephalopoda, Anda tidak memiliki tulang. Anda memiliki tubuh lunak yang membusuk. Atau menjadi fosil dalam kondisi yang sangat spesifik. Mendapatkan kerangka lengkap gurita raksasa? Langka. Hampir mistis. Tapi cakar ini memberi tahu kita skalanya.

Hal ini menunjukkan bahwa hewan-hewan ini tumbuh jauh lebih besar dari yang kita perkirakan.

Cumi-cumi raksasa saat ini mencapai ketinggian sekitar 40 kaki. Mungkin lebih banyak jika Anda murah hati. Raksasa prasejarah ini? Kami sedang mencari jarak yang bisa menelan seekor ikan paus utuh.

Tunggu, bisakah kamu melakukan itu?

Semacam itu.

Jaring Makanan Baru

Mendiang Cretaceous adalah saat yang aneh. Iklimnya hangat. Lembut. Hutan tumbuh di dekat kutub. Tanaman berbunga baru saja muncul. Dan lautan penuh dengan kehidupan. Namun juga penuh dengan kematian.

Plesiosaurus mengintai di balik bayang-bayang. Mosasaurus berpatroli di perairan terbuka. Sekarang, tambahkan gurita dengan paruh yang cukup tajam untuk menembus baja dan pengisap yang cukup kuat untuk menghancurkan batu.

Siapa yang berada di puncak jaring makanan saat ini?

Ini memperumit narasinya. Kita cenderung menganggap peristiwa kepunahan 66 juta tahun yang lalu sebagai sebuah terobosan baru. Asteroid itu menghantam. Dinosaurus mati. Tapi para penyintas lautan? Mereka tidak hanya bersembunyi. Mereka berevolusi. Beradaptasi.

Beberapa daerah menjadi dingin. Dinosaurus di bawah sana menumbuhkan bulu. Bukan untuk terbang. Untuk tetap hidup. Tekanan meningkat di dalam air. Persaingan melonjak.

Gurita raksasa ini tidak sendirian.

Ia memiliki garis keturunan yang sama dengan cumi-cumi dan sotong yang kita kenal sekarang. Tapi ukurannya? Itulah kejutannya. Ini mengisyaratkan era di mana energi mengalir secara berbeda. Dimana pertumbuhan tidak dibatasi oleh kendala yang kita lihat dalam biologi kelautan modern.

Mengapa Mereka Menyusut?

Apakah nanti mereka menyusut? Atau apakah mereka menghilang begitu saja?

Sebagian besar makhluk leviathan ini tidak berhasil melewati hantaman asteroid. Gelombang kejut. Kegelapan. Runtuhnya rantai makanan. Bencana ini memusnahkan setengah dari seluruh kehidupan tumbuhan dan hewan di bumi. Populasi invertebrata terkena pukulan telak.

Namun ada pula yang selamat. Nenek moyang gurita modern kita masih hidup.

Mungkin ukuran menjadi sebuah tanggung jawab. Terlalu banyak makanan yang dibutuhkan? Terlalu terlihat? Atau mungkin ekosistemnya baru saja mengatur ulang dirinya sendiri. Ceruk yang mereka isi ditutup.

Hal ini membuat kita bertanya-tanya tentang apa yang belum kita temukan.

Kami memiliki satu cakar. Hanya satu.

Bayangkan hewan lainnya.

Menunggu di sedimen.

Menunggu seseorang untuk menggali.

Yang dalam menyimpan rahasia. Tidak hanya di bawah sana sekarang. Di bawah sana lalu juga. 🦑