Sisi Gelap Simbiosis: Remora Mungkin Parasit, Bukan Hanya Penumpang

3

Selama beberapa dekade, para “penumpang” paling terkenal di lautan dipandang dari sudut pandang kenyamanan yang tidak berbahaya atau saling menguntungkan. Remora, ikan kecil yang dilengkapi cakram pengisap di kepalanya, diyakini secara luas melakukan perjalanan dengan hiu, paus, dan pari manta untuk membunuh parasit—sebuah layanan yang menunjukkan adanya hubungan kerja sama. Namun, penelitian baru menantang narasi yang tidak berbahaya ini, dengan mengungkapkan bahwa remora mungkin sebenarnya terlibat dalam perilaku yang mengganggu, berpotensi membahayakan, dan pada dasarnya bersifat parasit.

Penemuan Mengejutkan

Penelitian yang dipimpin oleh Emily Yeager, seorang kandidat doktoral di Universitas Miami, mendokumentasikan perilaku yang mengejutkan: ikan remora memasukkan dirinya ke dalam kloaka pari manta. Kloaka adalah lubang multifungsi yang digunakan untuk reproduksi, pembuangan limbah, dan ekskresi.

Penemuan ini terjadi secara kebetulan ketika seorang penyelam bebas mengejutkan seekor remora biasa (Remora remora ) di dekat pari manta Atlantik dewasa (Mobula yarae ). Dalam gerakan defensif atau oportunistik yang cepat, ikan tersebut menyelinap ke dalam lubang kloaka manta. Pari manta bereaksi dengan sangat tertekan, gemetar sebentar sebelum melanjutkan berenang dengan ikan yang masih bersarang di dalamnya.

“Reaksi pertama saya adalah kombinasi antara takjub dan ngeri — sungguh keren bahwa ikan remora bisa melakukan hal tersebut, namun menurut saya ini tidak menyenangkan bagi manta,” kata David Shiffman, ahli biologi konservasi laut independen yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Selain Menumpang yang “Tidak Berbahaya”.

Secara historis, para ilmuwan mengategorikan hubungan antara remora dan inangnya sebagai mutualisme (keduanya menguntungkan) atau komensalisme (yang satu diuntungkan, yang lain tidak terpengaruh). Asumsinya adalah remora menyediakan layanan kebersihan, menjadikannya teman yang berguna.

Temuan Yeager menunjukkan bahwa pandangan ini sudah ketinggalan zaman. Dengan memasuki rongga internal yang sensitif, remoras dapat menyebabkan:
* Cedera fisik atau ketidaknyamanan pada tuan rumah.
* Peningkatan biaya energi, karena pari manta terlihat melompat keluar dari air atau menggesek pasir untuk mengeluarkan ikan.
* Potensi gangguan pada reproduksi, berdasarkan lokasi intrusi.

“Jika Anda melihat gambar dan video remora yang meluncur ke belakang pari manta, itu mungkin bukan hubungan yang tidak berbahaya,” kata Yeager. “Kemampuan manta untuk menghilangkan remora mungkin tidak ada.”

Fenomena yang Meluas namun Tersembunyi

Meskipun perilaku ini terdengar ekstrem, data yang dikumpulkan dari para ilmuwan pari manta di seluruh dunia menunjukkan bahwa perilaku ini lebih umum terjadi daripada yang diperkirakan sebelumnya. Selama periode 15 tahun, para peneliti mencatat tujuh kejadian remora memasuki manta cloacae di tiga spesies manta berbeda (M. yarae, M. birostris, dan M. alfredi ) dan pada ikan pari remaja dan dewasa. Insiden ini terjadi di beberapa negara, mulai dari Maladewa hingga Florida.

Penelitian sebelumnya telah mengisyaratkan perilaku serupa—seperti remora kecil yang ditemukan di rongga insang ikan layar atau kloaka hiu paus—tetapi ini adalah dokumentasi komprehensif pertama mengenai praktik tersebut pada pari manta. Jarangnya observasi kemungkinan besar disebabkan oleh sulitnya menyaksikan interaksi pribadi dan internal di alam liar.

Memikirkan Kembali Hubungan Simbiotik

Implikasi dari penelitian ini tidak hanya mencakup remora dan pari manta. Yeager berpendapat bahwa hubungan simbiosis tidak boleh dipandang sebagai kategori yang kaku melainkan sebagai sebuah kontinum. Sama seperti dinamika keluarga manusia, di mana hubungan dapat berubah antara mendukung dan konfliktual, kemitraan ekologis cenderung bervariasi tergantung pada konteks dan perilaku.

“Ini adalah bukti adanya hubungan parasit, yang merupakan hal baru dalam pemahaman kita tentang hubungan ini dan bagaimana fungsinya di alam liar,” jelas Yeager.

Kesimpulan

Penelitian ini memaksa dilakukannya evaluasi ulang terhadap salah satu pasangan simbiosis paling ikonik di lautan. Apa yang tadinya dianggap sebagai pengaturan menumpang yang tidak berbahaya atau menguntungkan, sebenarnya merupakan interaksi parasit yang mengganggu. Ketika para ilmuwan terus mengamati dinamika kompleks ini, menjadi jelas bahwa kemitraan alam jauh lebih beragam—dan terkadang tidak nyaman—daripada yang diperkirakan sebelumnya.